"al jizah .... the story of baby mahmoud" Pyramids of Giza by ukirsari

Pyramids of Giza Travel Guide: 440 reviews and 1,433 photos

“Madame, Monsieur ... mari saya antar,” sopir taksi Peugeot 504 menyapa dari seberang Ramses Hilton Hotel Cairo. Masih pagi, winter time di Mesir. Kami menyebut Gizeh [Giza] dan isyarat tangan 15 ‘bau’ [sebutan Egyptian Poundsterling/LE. 1 LE = Rp 1.500]. Dia mengangguk setuju ‘tanpa syarat’. Bikin bingung, karena pasarannya LE20.
Makin mencengangkan saat masuk mobil. Sopir menyuruh Nick duduk di sampingnya, sedang saya di jok belakang. Hah, sejak kapan etiket ladies first berubah? Tanpa peduli, pria paruh baya itu menjelaskan beri harga murah karena si istri baru melahirkan bayi lelaki bernama Mahmoud. Ucapan ‘I am so happy, I am so happy’ ia ucapkan berkali-kali. Diseling mencium kening Nick sampai dua kali.
Astaga! Kami berseru congratulation dan sukhran jazlen [terima kasih banyak, bahasa Arab] seraya bergidik. Ia makin sok akrab, berkomentar suara serak kami akibat perubahan cuaca. “Nanti mampir sebentar di rumah saya, ada mentatih --semacam mint tea buat obat.” Lagi-lagi kami kompak menjawab, “Sukhran!” dengan dahi berkerut.

lots of trouble usually serious

Kecurigaan atas kebaikan berlebih si pak sopir terbukti. Sampai tikungan sebelum kompleks Great Pyramids, ia membelokkan mobil dan bilang, “Kita mampir dulu di rumah kawan lama saya. Dia punya museum papirus.”
“La, la, la!!!” kami menolak tegas [‘la’ berarti tidak]. “La, sukhran! Yallahhh [ayo, jalan]!!!” sambil menggerakkan tangan tanda terus jalan.
“Nahhh, you don’t understand!” gerutunya karena gagal memaksa kami. Marahnya bertambah saat saya mengangsurkan 2 lembaran LE10. Ia ngotot, “Tak ada kembalian!” Tapi saya juga ogah memberikan semuanya, karena tahu ini trik licik dia agar dapat uang lebih.
Nick berlagak hendak tukar uang dan si sopir buru-buru bersiul memanggil kami seraya mengeluarkan LE5 dari dompetnya! “Kalian berdua tidak mengerti soal museum!” ujar ‘ayah si Mahmoud’ kesal seraya ngeloyor pergi.
Kata ‘museum’ di Mesir memang sangat menjebak. Papyrus museum atau perfume museum tak lain toko yang menjual barang-barang itu. Beberapa pria di Talaat Harb Street, Cairo kerap menyapa dengan pertanyaan mana negara asal kami, tujuan, ingin mentraktir minum teh, kopi atau sheesha [merokok pakai pipa panjang dalam bejana berisi air] atau kalimat ‘maksa’, ‘Rasanya kita pernah ketemu?’ dan buntutnya digiring ke museum palsu!
Sehari sebelum kejadian ‘baby Mahmoud’, kami mengalami kejadian serupa. Tak heran kalau jadi ‘canggih’ menghadapi undangan ke museum. Petang itu, di Talaat Harb Street [mirip Mangga Dua nya Jakarta], seorang bapak setengah baya memaksa kami ke toko parfum setelah chit-chat. Karena capai pulang berwisata keluar-masuk piramid Dahshur seharian, reaksi kami, “Punya parfum unggulan apa?” Ia terus gigih menawarkan, “Lotus! Teman saya punya parfum Lotus. Asli. Digemari turis Prancis yang melek mode.”
Kami berdua kontan berseru, “Oh yeah, Lotus! Lots of trouble usually serious!” seraya berlalu. Bapak itu jelas tak mengerti akronim milik Jeremy Clarkson dari Top Gear Inggris, tapi dia tertawa memamerkan gigi hitam kena sigaret.

Lepas dari polah orang-orang yang kami sebut sebagai caterpillar itu, Mesir menawarkan begitu banyak tempat wisata —sebutannya di kalangan traveller; open air museum terbesar di dunia. Sungguh, ini ‘ganti rugi’ yang sangat pantas akibat gangguan caterpillar!
Kompleks Great Pyramid of Giza --masuk dalam jajaran 7 Keajaiban Kuno Dunia-- serta Sphinx cuma sekitar 16 km dari Ibukota. Piramid itu dibangun Pharaoh Khufu [Cheops dalam bahasa Yunani] sekitar 2500 Sebelum Masehi, bersanding dengan 2 piramid masing-masing buatan putranya, Khafre [Chefren] serta cucunya Menkaure [Mycerinus].
Sedang Sphinx, bernama asli Hor-em-Akhet atau ‘Horus [Dewa Burung bangsa Mesir kuno] di cakrawala’ alias Harmakis [bahasa Yunani] atau Abu-el-Hol, The Father of Terror [bahasa Arab]. Kondisi hidung patung raksasa berujud setengah manusia dan singa yang tak utuh lagi ini jadi joke dalam komik Asterix. Disebutkan, gara-gara ulah si gendut Obelix. Tapi sebenarnya akibat erosi angin serta dijadikan target latihan perang tentara Mamluk [1250-1517]. Catatan, film lawas Mel Gibson, Gallipoli [1981] disyuting apik di sini.

Pros and Cons
  • In a nutshell:printed version of this travel tips available in Top Gear indonesia version and Bobo kids magazine. released march and june 2005 by ukirsari rr manggalani
  • Last visit to Pyramids of Giza: Jan 2005
  • Intro Updated Aug 11, 2006
  • Add to Trip Planner (?)
  • Report Abuse

Comments (2)

  • schlumpf's Profile Photo
    Jul 14, 2005 at 10:53 AM

    heey...but with this weather the pyramids looks soooooooo hot!!!

  • coceng's Profile Photo
    Jul 5, 2005 at 9:09 AM

    Kenangan pahit gua di sini ! Enggak mau datang lagi ke Giza ! Love your comment in Bahasa Indonesia ! :) Regards.

ukirsari

“life is a neverending journey @ukirsariabroad ”

Online Now

Female

Top 1,000 Travel Writer
Member Rank:
0 0 1 3 6

Badges & Stats in Pyramids of Giza

  • 0 Reviews
  • 3 Photos
  • 0 Forum posts
  • 2 Comments
  • 2,357PageViews

Have you been to Pyramids of Giza?

  Share Your Travels  

Travel Interests

See All Travel Interests (4)