">> the last of the mohicans " Garut by ukirsari

Garut Travel Guide: 12 reviews and 43 photos

so peaceful but fragile

walking down the steps to kampung naga, the scenery is somewhat impressing me. nice and serene. the village itself amids lush greenery padi fields and tropical rain forest. just next to a river called cikawulan.
i do enjoy this trip. but my laid-back atmosphere which created while mingle with locals tear-off alltogether with visitors coming in. i assumed .... approximately 100 people come to this place!
i figured out before walking up and leave kampung naga. something in my heart. can be described like one of my fave movies: the last of the mohicans. is it true that hawkeye is the last mohicans? no, uncas [his adopted brother] is ... since hawkeye was born from british parents.
and kampung naga, with "hectic" condition in weekend like this ... how long it will stay as a village? as something untouched by modernity? i wonder, i feel ... pak cahyan, my local guide in here becomes uncas, hawkeye's adopted brother. pak cahyan is the native, about 40s ... i am afraid, the younger generation after pak cahyan will treat kampung naga differently.
it's so fragile beneath the beauty of kampung naga. glad i was there just in time.

introducing my guest author: roni sambiagga

i visited this beautiful place with myold friend roni and his friend tya plus my cameraman joppie a.k.a celengan semar :)

since roni also a good writer, i give him a chance to write about kampung naga within this page. thanks for sharing ya, roni!
and truely sorry for the unconvinience, since he prefer towrite in our mother tongue:)

Kampung Naga by RoniSambiagga
Hamparan pematang sawah yang luas, aliran sungai, dan hutan alami
yang rindang merupakan pemandangan asri yang mengelilingi sebuah
perkampungan yang disebut Kampung Naga. Kampung Naga merupakan
sebuah perkampungan di daerah antara Garut dan Tasikmalaya, Jawa
Barat. Sebuah komunitas masyarakat yang sangat kental unsur adat
dan budaya, yang terus diwariskan dari para leluhur. Nama Kampung
Naga merupakan nama yang sudah dimiliki sejak dulu, tidak ada
makna khusus dari nama tersebut. Sangat disayangkan sejarah
ataupun peninggalan sejarah berupa tulisan/dokumentasi mengenai
Kampung Naga kini sudah tidak ada. Hal tersebut dikarenakan pada
tahun 1956, terjadi pemberontakan DI/TII di Indonesia yang juga
mengakibatkan peristiwa pembakaran Kampung Naga sehingga semua
tulisan ataupun peninggalan sejarah hangus terbakar. Oleh karena
itu, adat dan budaya serta sejarah Kampung Naga diwariskan secara
lisan kepada generasi penerus.

Perkampungan dengan jumlah warga sebanyak 325 jiwa - 108 kepala
keluarga - ini sangat menghormati dan menjaga warisan adat dan
budaya yang telah diturunkan dari generasi ke generasi. Sebagai
contohnya adalah adanya hari pantangan yaitu pada hari Selasa,
Rabu, dan Sabtu. Pada hari-hari tersebut, tidak diperkenankan
untuk membicarakan mengenai sejarah atau masa lalu Kampung Naga.
Pada tatanan kehidupan masyarakat, dikenal istilah khusus yaitu
"Sesepuh" dan "Kuncen". Para sesepuh merupakan anggota masyarakat
yang dihormati sebagai para tetua. Kuncen adalah seseorang yang
memiliki peran pemimpin di Kampung Naga. Sebagian besar kegiatan
masyarakat Kampung Naga harus mendapatkan ijin ataupun berdasar
petunjuk yang diberikan oleh Kuncen. Peran sebagai kuncen Kampung
Naga merupakan peran yang diwariskan; hanya mereka yang memiliki
hubungan darah dengan kuncen sebelumnya yang dapat menjadi kuncen
pada generasi penerus.

Kampung Naga memiliki lahan seluas sekitar 1,5ha yang digunakan
sebagai wilayah tempat tinggal. Pada lahan tersebut terdapat 111
bangunan yang mencakup rumah tinggal, masjid, dan balai desa. Hal
yang unik dapat terlihat dari bentuk dan letak rumah tinggal.
Setiap rumah harus membentang Timur-Barat dan pintu-pintu dalam
rumah tidak boleh ada yang saling berhadapan. Hal tersebut juga
merupakan bagian dari adat dan kepercayaan masyarakat Kampung
Naga. Selain itu, dengan posisi rumah yang sejajar apabila saat
terjadi hujan maka air dari atap rumah akan jatuh ke tempat yang
dapat dialirkan ke sawah ataupun kolam ikan. Selain rumah tinggal
terdapat juga rumah yang disebut sebagai "Bumi Agung". Bumi Agung
merupakan semacam rumah adat yang hanya digunakan pada saat hari
raya ataupun upacara adat saja. Dalam kehidupan sehari-hari, Bumi
Agung dihuni oleh para sesepuh.

Pada umumnya kegiatan sehari-hari masyarakat Kampung Naga adalah
kegiatan dalam bidang agraria (bertani dan beternak). Sumber
makanan utama masyarakat Kampung Naga adalah beras yang
dihasilkan dari persawahan di sekitar perkampungan. Selain itu,
warga Kampung Naga juga beternak kambing, ayam, dan bebek, serta
terdapat juga tambak ikan - ikan mas dan ikan nila. Umumnya
hasil dari sawah ataupun ternak diutamakan untuk dimanfaatkan
sebagai kebutuhan sehari-hari. Di samping produk agraris, warga
Kampung Naga juga menghasilkan kerajinan tangan berupa produk-
produk anyaman dan lainnya dengan menggunakan bahan dari alam
seperti batang pohon, batok kelapa, akar-akaran, dsb. Sebagian
dari produk-produk tersebut dijual ke pasar ataupun dijual
langsung di antara rumah warga sebagai cendera mata bagi para
tamu yang berkunjung ke Kampung Naga.

Pros and Cons
  • In a nutshell:you should check this out before changes into modernity
  • Last visit to Garut: May 2007
  • Intro Updated May 24, 2007
  • Add to Trip Planner (?)
  • Report Abuse

Comments (1)

  • RoyJava's Profile Photo
    Jun 22, 2007 at 2:39 PM

    So seneng I got able to visit Kampung Naga, and have good memories, even I could not talk to the inhabitants ... Do love the mystery and do regret if it would disappear ... until soon my best friend @Ari, hormat & salam manis Roy

ukirsari

“life is a neverending journey @ukirsariabroad ”

Online Now

Female

Top 1,000 Travel Writer
Member Rank:
0 0 1 3 6

Badges & Stats in Garut

  • 0 Reviews
  • 3 Photos
  • 0 Forum posts
  • 1 Comments
  • 6,375PageViews

Have you been to Garut?

  Share Your Travels  

Latest Activity in Garut

Travel Interests

See All Travel Interests (4)